Sabtu, 27 Oktober 2012
Kamis, 25 Oktober 2012
Kamis, 04 Oktober 2012
Kita dan Impian
Hari
ini tak ada jadwal kuliah. Ya tentu saja, ini hari Minggu. Ditambah lagi udara
di luar yang sangat dingin membuatku malas untuk sekedar menghabiskan Minggu di
taman atau jalan ke mall. Ku memilih untuk duduk di meja belajar kamarku yang
terletak di sudut jendela. Kubuka laptop berwarna soft pink milikku yang sudah
sedari tadi bertengger di atas meja. Mulailah jemariku menari di atas keyboard.
Menekan toots toots hingga terbuka sebuah halaman yang membuat senyumku
mengembang. E-mail. Ya, hari ini waktuku untuk membaca e-mail e-mail dari
sahabat-sahabatku. Sahabatku yang mengukir masa putih abu-abuku menjadi lebih
bermakna. Perguruan tinggi yang berbedalah yang membuat kita harus
berkomunikasi dengan cara seperti ini.
Kami
adalah 8 sahabat yang selalu bercerita mengenai mimpi-mimpi gadis remaja. Mengenai
cita-cita, cinta, harapan dan masa depan. Dan hingga kini, di saat raga tak
mungkin bisa bertemu setiap waktu layaknya masa putih abu-abu kemarin, kami
masih tetap berbagi cerita mengenai hal yang sama. Dan perlahan tak hanya
cita-cita yang kami bagi, namun realita mengenai mimpi mimpi yang pernah kami
kepakkan bersama.
Aku
buka e-mail pertama, dari Yeanita, seseorang yang paling dewasa diantara kami
berdelapan. Tapi dewasa di sini bukan berarti yang paling kalem ya. Dia malah
salah satu yang paling heboh.
From :
yeanitasaswita@yahoo.com
To :
gianettadera@yahoo.com
Deraaaaa!!
Kangen gilaaak gue sama loe. Nyadar nggak sih loe kita udah lama banget nggak
ketemu. Nggak kangen apa loe sama gue? Loe baik-baik aja kan di sana? Kalo
Jakarta sih masih seperti sedia kala, panasnya nggak ketulungan. Sampe bingung
mau pasang AC berapa di kost-an.
Btw,
mau pamer dulu nih gue. You know kan barusan ada pemilu. Gilak kampanye di
Jakarta parah sumpah. Bunderan HI tuh yaa, penuh ratusan manusia yang berasa
pada beranak di situ. Tiap menit nambah masa. Kalau menurut data yang gue
analisa, waktu yang diperlukan untuk melakukan cacah jiwa ke mereka tu bisa
nyampe 2 harian gitu deh. Banyak gilaak. Tapi sebenernya bukan itu sih yang mau
gue pamerin. Jadi gini, sebagai anak statistika *ehem* gue dikasih kehormatan
buat ikut terjun langsung buat bikin quick count. Kebayang nggak sih, yaampun
baru setaunan gue sekolah udah langsung bisa terjun langsung lapangan gini.
Mana yang bisa ikut terjun dari golongan mahasiswa itu cuman 5% Der! Dan gue
salah satunya. Keren nggak sih????
Oiya,
gue belum cerita ke loe ya soal Dennis? Aaaaa Deraaaa T.T gue bingung. Loe
inget kan? Nggak lama sebelum gue terbang ke STIS, Dennis nyamperin gue dan
bilang kalo kita emang nggak bisa disatuin. Tembok diantara kita terlalu kokoh
untuk bisa dirobohkan. Yess , I’m frustrated. Tapi kemaren pas ulang tahun gue,
secara tiba-tiba dia dateng ke Jakarta Der. Tanpa sepengetahuan gue. Dia dateng
ke kost-an gue tepat jam 12 malem sambil bawa kue dan nyanyi lagu happy
birthday buat gue. Untung aja bawa kue, kalo dia dateng bawa yang lain malah
berabe kan *eh wkwk. Dan yang perlu digarisbawahi, dia jauh-jauh dateng dari
Jogja cuman buat gue Der. Gimana gue nggak nangis bersimbah darah coba. His
action is too sweet. Tapi ya gitu Der, belum ada kejelasan. Doain hubungan gue
nggak cuman di garis abu-abu gini ya. Ya gue harap e-mail gue selanjutnya ke
elo, nyritain kisah gue yang abu-abu ini menjadi jingga. J
See
ya Dera Victoria wuahaha. Hoping for your reply soon ;)
Yean
masih seperti dulu. Selalu rame, kocak dan tidak bisa tidak ekspresif. Aku
masih ingat bagaimana ekspresi keceriannya saat ia mendapat berita kelolosannya
menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik. Keinginannya untuk menjadi
seorang ahli statiska sangatlah kuat. Cita-citanya begitu mulia. Ia ingin suatu
saat nanti dialah yang mampu merubah grafik kependudukan Indonesia. Menekan
angka pertumbuhan dan menggariskan kurva kenaikan kesejahteraan. Tak salah jika
secepat itu dia bisa ditemukan dengan pekerjaan yang dia inginkan, bergabung
dengan Badan Pusat Statistik. Walaupun belum benar-benar bergabung ke dalamnya,
setidaknya hal ini menjadi sebuah batu loncatan untuknya, memetik buah dari
benih tanaman yang ia tanam dan pelihara dengan baik.
Kuberalih
ke e-mail kedua. Belum sempat aku membukanya, ingatanku sudah mulai memutarkan
rekaman-rekaman di saat ia mampu membuat kami tak bisa berhenti tertawa karena
cara melawaknya yang khas. Flat and poker face. Ya, dia adalah Dinka.
From : radinkafatani@yahoo.com
To : gianettadera@yahoo.com
Dera!!
Sebenernya aku nggak mau bilang ini, tapi gimana ya? Emang udah nggak bisa
ditahan lagi. Tapi kamu jangan kaget ya? Jangan geer juga. Aku kangen kamu
Der!! {} Kangen banget sama temen-temen berlapan. Makan di angkringan, sugaran,
sleepover, joget dangdut berantai, aaaa semuanyaaa. Kapan mau balik Der? Ntar
jadwalin deh ya kumpul-kumpul lagi ;;)
Oiya,
mau kasih info nih. Dua hari yang lalu, temenmu yang kamu bilang full of
expression ini habis ngresmiin sesuatu lho. Jedeng jedeng jedeng, Radinka
Bakery!!!!!! Aaaaa seneng banget Der, akhirnya keinginan buat punya usaha
sendiri terwujud. Dan kalo mau tahu, sensasi bakery punyaku nih yaaa menang
jauh sama si “roti ngomong” itu :p. Ya nggak papa deh ya, aku emang belum
diizinin ke bismen, but see? Tuhan emang punya rencana lain yang lebih bagus
buat aku. Ya salah satunya usaha baruku ini :D. Bisa lho kalo mau delivery, khusus
aku layanin buat kamu deh. Hhaaaa
Udah
dulu ya Der, red velvet udah nunggu buat diplatting nih, see yaaaaa
Waw, betapa bahagianya aku mendengar
berita gembira dari Dinka. Keinginannya untuk membangun usaha sendiri emang
sudah sejak duduk di bangku SMA. Ia selalu berangan-angan mempunyai sebuah toko
roti yang lebih sukses dibanding Breadtalk. Aku ingat kata-katanya sebelum aku
brangkat dulu, dia bilang “besok kalo kumpul-kumpul di kedai rotiku aja ya?
Insyaalah tahun depan udah bisa dikunjungi.” Dan aku nggak nyangka, omongan
asal yang keluar begitu saja saat itu, di dengar Tuhan. Ya, dan aku percaya
Dinka juga pasti bekerja keras untuk ini. Senyumku makin mengembang, dan
beralih ke e-mail ketiga. Dari Zara, si kaki jenjang.
From : azaraosya@yahoo.com
To : gianettadera@yahoo.com
Hi Ibu Dubes J. Long time no see. How’s life.
Great isn’t it? Si kaki jenjang mau bagi-bagi cerita sama si badan bagus nih :D
Tau nggak sih
Der, aku nulis e-mail ini di mana? I’m in Jenewa right now. As you know lah aku
join di group dancer kampus dan saat ini dapet kesempatan ikut competition di
Jenewa. Awalnya aku juga nggak nyangka. Terharu deh pokoknya. Bermula dari
dancing2 nggak jelas sama si Karin tiap hari. Cari-cari video tutorial dance.
Sampe tiap hari kamu bilang bagaikan cacing kepanasan “kruget-kruget” gitu. Dan
aku sekarang mau bales omonganmu nih. “Cacing kepanasan lagi di Jenewa Swiss
lho. Ikut “kruget-kruget” competition. And you have to know that it’s
International Competition. You have to be proud ever saw the kruget style of
mine. hahaa*emot kaca mata*
Dan senengnya
lagi ya Der, aku di sini bisa ngunjungin World Bank. Tempat di mana kelak aku
akan duduk. Mengecek keuangan dunia, mengatur kestabilan ekonomi di dunia.
Menggantikan posisi Ibu Sri Mulyani, atau bahkan bisa lebih. Kayak yang pernah
kita berlapan obrolin dulu. Di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin. Nggak
ada yang nglarang buat punya cita-cita tinggi kan? Dan aku yakin Der, suatu
saat, beberapa tahun ke depan kita berdelapan dengan predikatnya masing-masing
bakal liburan bareng. Berbagi cerita mengenai semuanya. Memanggil dengan
panggilan jabatannya. Ibu Dirut World Bank, Ibu Dubes, Ibu Boss, dan predikat
membanggakan lainnya :’)
Oh God, I’m
tearing. Well, this is what I can report you. Hoping your reply as soon Ibu
Dubes :D See yaaaaaa {}
Oh
My God, how’s surprise. Satu lagi sahabatku yang udah nemuin kesuksesannya.
Bahkan ini baru 3 e-mail yang aku buka. Aku semakin tak sabar untuk membaca
keempat lainnya. Cerita mengejutkan apa lagi yang akan aku terima. Kesuksesan
sahabat-sahabat karibku mulai terbuka. Cita-cita yang dahulu pernah
diterbangkan bersama balon impian satu-satu terwujud. Aku mengusap tetes air
mata yang menetes mengalir. Tidak, aku tak ingin berhenti sejenak. Menunda
membaca lembaran lembaran berita bahagia dari teman-temanku. Aku lanjutkan
membuka e-mail ke-empat. Dari si anak kecil Shena. Yang sedang mewujudkan
keinginannya untuk bekerja dengan menggunakan jas putih dengan stetoskop menggantung
di lehernya. Dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, ia
bercerita.
From : laksita.shena@yahoo.com
To : gianettadera@yahoo.com
Kakaaaaaak apa
kabar? Sehat kan? Acil juga sehat. Bahkan kemaren Acil juga bantuin orang-orang
buat jadi sehat lhooh :D
Well, serius.
Bener-bener ya Der, keinginanku buat jadi dokter semakin bulat banget. Miris
tau nggak sih ngeliat para orang tua dan anak-anak kecil nggak berdosa yang
bisa jadi, nyawa mereka nggak tertolong hanya karena rumah sakit yang jauh
ataupun tenaga medis yang nggak bisa ngrambah daerah mereka. Kemarin aku
dikasih kesempatan untuk tinggal di daerah terpencil di NTB selama 2 minggu.
Tenaga medis di sana sangat minim. Kedatanganku disambut sama warga. Udah kaya
Presiden tau nggak sih? Mereka menganggapku bagai malaikat yang dikirim Tuhan
buat ngobatin penduduk sekitar. Aku dipeluk, dipuji, dipuja dan bahkan
terkadang berlebihan. Menggunakan jas putih berstetoskop membuatku percaya diri
Der. Aku semakin terharu saat tugasku di sana sudah selesai. Aku pamit pulang,
tapi respon mereka tak diduga. Mereka menangis, memintaku untuk tinggal. Mereka
khawatir tak ada yang akan mengobati mereka lagi. Padahal ilmu medisku belum
seberapa, tapi mereka sangat menghargai itu. Dan akhirnya aku berani janji ke
mereka. Suatu saat aku akan membuatkan mereka sebuah Rumah Sakit layak dengan
tenaga medis yang mencukupi. Sekarang anganku udah mulai merancang sebuah
bangunan serba putih yang sederhana tapi besar manfaatnya. Dengan tulisan yang
cukup jelas di depan gerbangnya, “Rumah Sakit Laksita”. J
Doain ya Der
semua itu bisa terwujud. Menjadi dokter bukan hanya mengejar materi belaka.
Tapi juga untuk kehidupan setelah dunia berakhir. Ketulusan seorang dokter
lebih berharga dan ternilai dibanding dengan nominal rupiahnya. Setuju Der?
Setuju!
Entah aku harus tertawa, sekedar tersenyum atau bahkan terharu. Seorang Shena,
si anak kecil yang dulunya masih mempermasalahkan puzzle cinta yang tak kunjung
dikembalikan oleh mantannya alias nggak move on move on, sekarang bisa ngomong
sebijak itu. Is that really Shena? Kalo iya, sumpah bangga banget. Dia yang
dulunya kejang-kejang gara gara liat ulet, sekarang mampu beradaptasi di daerah
terpencil seperti itu. Sungguh, satu tahun lebih bisa mengubah banyak hal. In a
positive way J.
Kembali ke softpink laptop, aku buka e-mail berikutnya. Dari Kanova. Si hidung
mancung yang kini menimba ilmu di Negara tetangga, La Salle Singapore. Mengambil
fakultas Design Komunikasi Visual di sana. Awalnya ia mengalami ombang-ambing
lautan mimpi sebelum akhirnya bertemu dengan dermaga. Dulu ia pernah ingin
mengambil Fakultas Farmasi. Namun kami yang peduli dengan masa depannya,
meyakinkan ia bahwa Farmasi bukanlah Kanova. Jiwa seorang Kanova ada di design,
bukan di racikan obat.
From : claudiakanova@yahoo.com
To : gianettadera@yahoo.com
Dera, how’s
life? Singapore so friendly so far. Lama ya nggak ketemu. Pengen deh ketemu
sama kalian terus bilang terima kasih karena udah ngasih titik terang dan
secara nggak langsung maksa aku masuk design. But that’s which I wanna say
thanks for. Design tu gue banget Der. Ngabisin waktu di depan laptop, ngotak
atik corel, adobe and others that being my friends now. And I’m enjoying. Aku
jadi inget, kalian meluk aku kenceeeeng banget pas aku nangis haru sesenggukan
saat dapetin surat lolos full scholarship ini. Foto kalian masih dipampang di
wallpaper laptop. Jadi, pas aku mau ngerjain tugas kampus, kalianlah yang
pertama kali aku liat. Tawa kalian bikin kangen L.
Tugas lagi
banyak nih Der. Bukannya nggak mau cerita panjang lebar. Tapi ya gimana, musti
bikin design buat backdrop acara kampus. Ya, gini-gini seorang Kanova dibutuhin
juga lhooh buat event di kampus. Hhee :D besok kalo udah longgaran, sambung
lagi ya?
Bye Dera ;)
Simple
e-mail dari Kanova, tapi meaningful. Aku ikut senang karena dia udah bisa
benar-benar mencelupkan diri di design. Bayang bayang sekolah farmasi mungkin
sudah menua dan keropos, hingga lebur bersama lautan saat ia menyebrang dari
Batam ke Singapore. E-mail ke-enam dari Miranda. Ni anak satu juga salah satu
yang paling bikin kangen. Ramenya, kocaknya, victorianya, semua deh. Kadang
berpikir juga, gimana besok nasib pasien-pasiennya kalo dokternya aja gila
macem dia. hhaahaaa.
From : mirandavareswara@yahoo.com
To : gianettadera@yahoo.com
Deraaaaaaaaa
kemana aja kamu? Nggak pernah keliatan batang idungnya. Songong nih jarang
pulang, hah! Wait, ini kamu yang emang nggak pernah pulang apa aku yang
keseringan bolak-balik pulang ya? Hahaaa, sorry sih yaa kediaman sama kampus
UNS deket. Jadi yaa bisa mondar-mandir :p hahaa
Gimana HI Der?
Seru? Pasti politik-politik dan sebangsanya gitu ya? Kalau kedokteran kece juga
lhoh. Seneng deh kalo pas praktikum gitu. Bedah-bedahan. Syukurnya sih yang
dibedah masih sebangsa kodok, dan tikus putih. Coba kalau yang lain, nggak tau
deh. Maaksudnya, bedah buaya ato apa gitu lhoo, kan berabe, wuhahaaaa.
Kangen nih
daydreaming sama kalian lagi. Sok sok arisan tante-tante gaje sampe obrolan
tentang ayah asi, wkwkw masih inget nggak Der? SMA cepet banget ya? Kuliah aja
udah jalan setaunan lebih. Gimana ya besok kita? Suami kita? Anak-anak kita?
Kapan kita bisa ngobrolin hal-hal kayak gitu lagi? Dulu masalah pacar, mungkin
besok tentang calon suami kali ya? Wuahaaaa. Smoga deh ya cepetan bisa ngumpul.
Aku nunggu kabar kepulanganmu :D
Bye Deraaaa,
dapet salam tuh dari Akang Firman. Pengen ngejitak kepalamu katanya, wuahaaa.
Dapet salam juga dari mamah, nagih janjimu buat sleepover di rumah :D
Dasar
Miranda, victorianya nggak ilang. Bahkan mungkin kadar bertambah setelah jadi
mahasiswa kedokteran. Hahaa. Firman? Miranda masih sama Firman? Langgeng juga
ya mereka. Kabar terakhir kayaknya mereka LDR-an. But yaa, love is just love.
Kalo udah cinta, nyebrang benua pun bukan jadi masalah. Senyumku sedikit
terhenti sejenak. Mengingat seseorang yang lain. Bagaimana kabarnya? Entahlah,
aku kembali ke e-mail. Masih ada satu yang belum kubaca. Ini e-mail yang
terakhir. Dari Karin. Gadis yang bersahabat dengan dunia khayal. Mengkhayalkan
apa saja yang ia rasa seru untuk dikhayalkan. Dari mulai cowok, kegilaannya
pada k-pop dan khayalannya tentang sekolah di Korea. Tapi kini, tak hanya
khayalan. E-mail ini ia tulis dari sebuah kota sejuk di Korea Selatan, Seoul.
From : tiffanykarin@yahoo.com
To : gianettadera@yahoo.com
Bunderrrrrr!!!!!!
Annyeong! Jaljinaeso? Kabar baik kan ya? Iyadong, sekolahnya kece, kalo
kabarnya nggak baik, rugi :p haaaha
Btw, aku mau
cerita aku mau cerita! Guess what? Bulan depan salah satu baju hasil design aku
ikut Seoul Fashion Week. Deraa aku butuh pegangan! Kalang kabut. Oh, no.
Finally I’m a designer ~~. Yonsei University tu bener-bener ngerti aku banget
lah. Dan ini tu bagaikan seorang Tiffany Dianita Karin dipertemukan dengan
identitas aslinya. Sekarang udah bisa bedain bangetlah antara kampus dan
sekolah. SMA tu dulu memaksaku untuk mencintai apa yang aku lakukan. Fisika,
Kimia, Biologi, oh My Lord. But now, university menuntunku untuk mengerjakan
apa yang aku cintai. And I love Fashion Design. This is my way Dera!! And you
also have known it.
Keikut sertaanku
di fashion week besok juga gara-gara butik tempat aku part-time. Di situ aku
belajar banyak Der. Tau tentang lace yang bisa aku padankan dengan batik.
Shiffon yang bisa aku macthkan dengan ulos. Masih bisa bangga lah ngebawa icon
Negara sendiri di negri orang. Jadi besok nggak cuman kamu yang bisa bawa nama
Indonesia, tapi aku juga bakal ikut andil tapi lewat bidangku, fashion J
Oiya, tau nggak
sih Der. Jaman SMA susah banget kan aku dapet ijin buat nonton konser boyband
girlband kece Korea pujaan hatiku. Sekarang, sampai saat ini udah belasan kali
aku bisa nonton. Dari mulai Shinee, Super Junior, EXO, 2NE1, Big Bang aaaa
banyak deh. Lalalalalaaaa senangnya dalam hati ~~
Well, this is
from me, Bunder. Reply me soon. Share your new life. Bye. *bighug*
Oh
My God. Satu per satu sahabat-sahabatku benar benar sudah memetik buah dari
benih yang mereka tanam. Aku di sini patut berbangga atas kalian. Aku, Gianetta
Dera Widyastari yang sejak dulu mempunyai mimpi untuk bisa duduk di sebuah
kursi gagah yang di depannya diletakkan name tag berisikan nama dan jabatan
sebagai seorang duta besar Indonesia untuk negara adidaya. Gadis yang biasa
disapa Dera yang sejak dulu bermimpi untuk merasakan edukasi di negara luar.
Dan kini, gadis ini terdaftar menjadi seorang mahasiswa di perguruan tinggi
bernama The University of Queensland di Australia. Mengambil Prodi
International Relation melalui jalur Full Scholarship. Aku mulai menulis e-mail
balasan untuk mereka.
Miss you too
guys. Seneng banget rasanya denger berita kesuksesan kalian satu per satu. Ketercapaian
mimpi mimpi kita di masa putih abu abu yang pernah kita rajut bersama. Meniup
balon impian bersama dan kemudian menerbangkannya secara serentak. Kita pernah
sepakat bahwa sahabat bukanlah sekelompok orang yang selalu memiliki visi, misi
dan impian yang sama. Namun sebaliknya, kita tak mau memiliki mimpi yang sama
hanya karna title persahabatan. Aku dan kalian mempunyai mimpi yang berbeda.
Aku dan kalian tak bisa dipaksakan untuk sama sama berada pada jalur yang satu.
Tapi inilah yang ternyata kita mau. Kesuksesan di masing-masing bidang yang
membawa kekayaan varian. Hal yang bisa dijadikan cerita kelak. Hal yang bisa
dipandang tak hanya dari satu sisi. Tapi bisa dari justifikasi politik,
kesehatan, kedinamisan design dan lainnya.
Yean, aku ingin
suatu saat kau menelponku dan berkata “Der, aku berhasil membuat diagram
impianku. Aku yang akan ikut andil menekan pertumbuhan penduduk dan menarik
garis ke atas kurva kesejahteraan.”
Dinka, betapa
senangnya aku kelak jika nanti di saat aku telah benar benar menduduki kursi
duta besar mendapat kabar darimu “Dera, barusan aku buka cabang di negara di mana
sekarang kamu tinggal. Mampir ya? Ada rasa baru yang bakal ngingetin kamu
tentang Indonesia.”
Zara, aku bakal
menantikan disaat kamu tiba-tiba menemuiku di sebuah lobi hotel dan berkata
“Der, meeting antara World Bank dan Embassy dimulai setengah jam lagi.”
Shena, aku
tunggu janjimu. Kamu akan menghubungiku untuk sekedar meminta doa agar Rumah
Sakit yang kau dirikan bisa menjadi wadah bagi orang-orang yang memang
benar-benar membutuhkan perhatian di bidang kesehatan. Utamanya seperti yang
kau katakan, di daerah yang tak terjamah tangan tangan medis.
Kanova, aku
ingin suatu saat nanti kau mengirimkanku katalog katalog bergambar
design-design yang engkau buat sembari menuliskan pesan “Projectku setengah
tahun ini Der, masih setumpuk project yang bahkan belum aku tandatangani karna
deadline yang terlampau banyak.”
Miranda, suatu
saat aku akan mendengar namamu disebut di surat kabar bahwa kau berhasil
menggalakkan program ayah asi yang menjadi progjamu. Kamu yang jadi narasumber
dari seminar-seminar diberbagai wilayah. Yang pada akhirnya memperkecil angka
kematian bayi Indonesia.
Dan kau Karin.
Sebagai duta besar yang pastinya ingin mengangkat budaya Indonesia. Menjadi
sebuah kehormatan untukku jikalau suatu saat kau yang merancang busana kerjaku
dengan balutan kain Indonesia. Kau juga yang nantinya akan tampil dalam
Vogue.com yang menampilkan hasil karyamu
yang tak kalah dengan designer ternama lainnya.
Guys, dari
Queensland aku berdoa. Mimpi yang kita kepakkan bersama aku harap bisa benar
benar mengangkasa. Berkata pada dunia bahwa, kita gadis-gadis remaja yang
memegang erat keyakinan akan mimpi-mimpi bisa benar-benar melukis pelangi masa
depan.
See you soon
this winter guys J
To be continue . . . .
Langganan:
Postingan (Atom)